Aug 11

Guru, Mendikbud, dan Parang Imam Zarkasyi

 

Pendidikan bertujuan utama membentuk manusia yang beradab

Pendidikan bertujuan utama membentuk manusia yang beradab

Apa-pun kurikulumnya, kata Muhadjir Effendy, kalau gurunya profesional tidak masalah. Itu diucapkan sang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada 6 Agustus 2016. Sementara, jauh bertahun-tahun sebelumnya, KH Imam Zarkasyi –salah seorang pendiri Pondok Modern Gontor- menyatakan bahwa “Guru lebih penting daripada metode”. Apa relevansi dari kedua pendapat tersebut atas kekinian dunia pelajar kita?

 

Metafora Bagus

Posisi guru kembali menjadi bahan perbincangan setelah Mendikbud yang baru dilantik pada 27 Juli 2016 itu menyebut-nyebut guru sebagai berperan strategis jauh di atas kurikulum. Kata Muhadjir, persoalan pendidikan bukan di kurikulum, tapi di guru. “Guru menjadi elemen yang paling penting. Saat ini, profesionalisme guru di Indonesia belum tercapai. Jadi, masalah ini harus diselesaikan dan harus ditangani dengan serius. Jika profesionalisme tercapai maka separuh permasalahan pendidikan di Indonesia sudah dikatakan selesai,” simpul Mendikbud (www.suarapgri.com 07/08/2016).

Atas apa yang disampaikan Muhadjir di atas, rasanya banyak yang setuju. Bahwa, keberhasilan di dalam proses pendidikan sungguh sangat ditentukan oleh kontribusi guru. Bahwa, peran guru sedemikian sangat sentral.

Soal strategisnya peran guru, KH Imam Zarkasyi-pun juga berpendapat demikian. Beliau selalu menekankan pentingnya kesungguhan dan disiplin guru serta peningkatan kualitas guru, baik dari segi ilmu maupun penggunaan metode mengajar yang benar. Dalam hal ini, nasihat terkenal yang sering beliau sampaikan adalah “Al-thariqah ahammu min al-maddah (Metode jauh lebih penting daripada materi)”. Sungguh-pun demikian, beliau melanjutkan, “Al-mudarris ahammu min al-thariqah (Guru lebih penting daripada metode).”

Sekarang, mari saksikan fragmen mengesankan ini! Di sebuah ketika di Pondok Modern Gontor, secara mendadak KH Imam Zarkasyi meminta semua guru agar berkumpul di aula saat jam mengajar dengan komando siaga satu gaya militer. Banyak guru bertanya-tanya, ada apa?

Kala itu, Imam Zarkasyi telah menunggu di aula dengan penampilan serius. Di atas mejanya terdapat sebilah parang besar. Melihat pemandangan itu, semua guru semakin terheran-heran.

Tokoh pendidikan nasional itu lalu berbicara. Ternyata, untuk kali ke sekian, beliau menekankan: “Guru-guru harus mengajar dengan cara yang baik, benar, dan bersungguh-sungguh.” Sebab, “Cara mengajar yang baik, itu lebih penting daripada pelajarannya”.

Tak berhenti dengan penjelasan verbal, Imam Zarkasyi lalu mengambil parang yang terletak di atas meja. Dengan tangan yang sebenarnya terlalu lemah untuk memegang parang besar itu, ia berkali-kali memukulkan parang tersebut ke meja yang sebenarnya masih bagus. Berkali-kali meja dipukulnya, seperti tengah memotong kayu. “Lihat ini, kalau parang ini digunakan dengan cara yang benar, meskipun dengan pukulan yang tidak terlalu keras, akan membuahkan hasil. Lihat!” Imam Zarkasyi terus memukul-mukul seraya menunjukkan meja yang rusak itu.

Sesaat kemudian, “Tapi, kalau parang ini digunakan secara salah (beliau kemudian membalikkan parang tersebut, dengan posisi mata pisau terbalik), meski sekuat tenaga kamu memukulkannya, kamu tidak akan dapat memotong dengan baik. Lihat ini,” kata Imam Zarkasyi sambil terus memukulkan parang itu berkali-kali. Tentu saja sabetan itu hanya menghasilkan getaran besar, tanpa berhasil memotong. “Maka, cara menggunakan parang itu lebih penting daripada parang itu sendiri,” simpul Imam zarkasyi.

Alhasil, apa yang dinyatakan secara lugas oleh Muhadjir Effendy dan apa yang disampaikan secara metaforis oleh Imam Zarkasyi menegaskan tentang posisi sangat dominan dari seorang guru atas “perjalanan nasib’ dari murid-murid yang diasuhnya. Maka, jika demikian, sungguh berat beban moral yang harus ditanggung seorang guru.

Tentang betapa beratnya beban moral yang dipikul oleh guru, mari kita baca Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Sementara, di pasal 3 tentang fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa, pendidikan “Berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Kedua pasal di atas jelas meniscayakan akan kehadiran seorang guru yang profesional. Guru yang profesional harus mampu membimbing muridnya agar bisa meraih tujuan pendidikan.

Sekali lagi, apa tujuan pendidikan nasional kita? Pendidikan nasional bertujuan untuk menjamin berkembangnya potensi peserta didik agar –terutama- menjadi manusia yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia. Rumusan itu sejalan dengan pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Intelektual Muslim terkemuka itu berkata bahwa pendidikan itu bertujuan utama membentuk manusia yang beradab.

Adab, kata Al-Attas, adalah disiplin ruhani, akli, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya. Orang beradab tahu yang haq dan yang bathil.

 

Halo, Guru!

Mencermati sedemikian vitalnya fungsi seorang guru, maka sudah profesional-kah rata-rata guru kita? Sudah berhasil-kah guru-guru kita dalam membawa muridnya menjadi manusia yang beradab? Pertanyaan itu penting dan mendesak untuk dijawab di tengah lilitan masalah di dunia pelajar kita seperti soal pornografi, narkoba, tawuran, dan hal-hal lain yang serupa dengan itu. []

 

 

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/guru-mendikbud-dan-parang-imam-zarkasyi/

Aug 04

Menangkap Dua “Pesan” Menteri Pendidikan

Musa (tengah), ayah dan ibunya, serta Piagam Penghargaan itu

Musa (tengah), ayah dan ibunya, serta Piagam Penghargaan itu

Ada dua hal menarik terkait dengan “bahasa tubuh” dan sikap Muhadjir Effendy yang baru dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pertama, di “Pelantikan Menteri, Muhadjir Menolak Halus Jabat Tangan Ibu Iriana Jokowi” (http://sangpencerah.com 28/07/2016). Kedua,  “Masya-Allah, Mendikbud RI Beri Penghargaan Orang Tua Terhebat kepada Ayah dan Ibu Musa Al-Hafidz” (http:/jurnalmuslim.com30/07/2016). Mengapa kedua hal itu bisa mencuri perhatian publik?

 

Sikap Hati-hati

Pada 27/07/2016 sejumlah menteri baru dilantik dalam sebuah perombakan Kabinet. Prof. Dr. Muhadjir Effendy termasuk yang dilantik untuk jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).

Read the rest of this entry »

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/menangkap-dua-pesan-menteri-pendidikan/

Jul 28

Pamekasan, Ghirah, dan Tarian Itu  

amar-maruf-copy

Aktivitas yang tak boleh ditinggalkan

Andai Buya HAMKA masih hidup, sangat boleh jadi beliau akan menangis membaca dua berita ini: “Ada Tarian Erotis di Bumi Gerbang Salam Pamekasan” (mediamadura.com 25/07/2016). “Tari Erotis Guncang Kota Gerbang Salam” (radarmadura.jawapos.com 26/07/2016). Mengapa?

 

Sebuah Ironi

Di awal 1980-an Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) menerbitkan buku “Ghirah dan Tantangan Islam”. Buku itu diterbitkan ulang dengan judul “Ghirah, Cemburu karena Allah” pada 2015. Buku itu merupakan salah satu dari karya terbaik HAMKA yang mengkaji fenomena-fenomena sosial di Indonesia khususnya yang terkait nilai-nilai Islam.

Apa Ghirah? Ghirah adalah perasaan cemburu karena Allah. Ghirah adalah rasa cemburu yang berakar pada agama. Ghirah akan muncul saat melihat terjadinya pelanggaran atas syariat Allah. Read the rest of this entry »

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/pamekasan-ghirah-dan-tarian-itu/

Jun 23

FPI, HAMKA, dan “Syarat Terbaik”

Duta Masyarakat 25-06-2016

Duta Masyarakat 25-06-2016

Di saat yang lain masih asyik berdebat, Front Pembela Islam (FPI) dengan berani mendatangi KOMPAS yang dinilai tak benar di salah satu pemberitaannya. Di ketika yang lain masih sibuk berwacana, FPI dengan gagah mendatangi TVRI yang dianggap tak tepat di salah satu siarannya. Di titik ini, bisa saja ada yang lalu ingat HAMKA, terutama di saat beliau membahas QS Ali Imraan [3]: 110 di Tafsir Al-Azhar-nya. Mengapa?

 

Sumber Berani

Pertama, soal FPI dan KOMPAS. Di Serang – Banten, ada Perda Nomor 2 Tahun 2010 tentang “Pencegahan, Pemberantasan, dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat”. Pada 08/06/2016 Satpol PP-nya melakukan razia terkait penegakan Perda itu. Ibu Saeni (53) termasuk yang kena razia karena membuka warungnya di waktu yang tidak tepat di saat Ramadhan seperti yang telah diatur.

Read the rest of this entry »

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/fpi-hamka-dan-syarat-terbaik/

Jun 16

Menggoyang Perda Syariah dari Serang?

Kota Serang“Presiden Jokowi Batalkan Ribuan Perda Bermasalah” (www.republika.co.id 14/06/2016). Machfud MD lalu menukas: “Pemda Boleh Abaikan Pencabutan Perda” (www.republika.co.id 15/06/2016). Masalah ini menarik karena bersinggungan dengan keberadaan Peraturan Daerah (Perda) bernuansa syariah. Mengapa?

Siapa Gerah

Atas sejumlah alasan, ribuan Perda dibatalkan. Salah satu alasannya, soal adanya nuansa intoleransi dan itu –kata Jokowi- “Bertentangan dengan semangat kebhinnekaan dan persatuan” (Jawa Pos 14/06/2016).

Keputusan itu ditolak oleh sejumlah tokoh. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, misalnya. Dia  mengatakan, bahwa secara hukum Pemerintah Daerah bisa mengabaikan pencabutan Perda yang dilakukan oleh Kemendagri. “Aturan ini sudah jelas pada Pasal 145 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004,” kata Mahfud MD.

Read the rest of this entry »

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/menggoyang-perda-syariah-dari-serang/

Jun 11

Medsos, ‘Pak Pos’, dan Ramadhan

artikel anwar editBanyak yang merasa diuntungkan oleh keberadaan media sosial (medsos). Sisi baiknya, hubungan kekerabatan / pertemanan dari banyak orang menjadi lebih akrab dan berbagai informasi menjadi lebih cepat tersiar. Tetapi, sisi negatifnya juga ada. Maka, di titik ini, semoga ajaran puasa Ramadhan dapat menyelamatkan kita saat ber-medsos.

 

Kapan Kritis

Medsos telah membuat banyak orang (merasa) makin pintar tanpa harus membaca banyak buku, koran, dan yang sejenisnya. Berbagai informasi lalu-lalang tiap saat, nyaris 24 jam dalam sehari. Pergerakan informasi sungguh sangat dinamis.

Read the rest of this entry »

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/medsos-pak-pos-dan-ramadhan/

Jun 10

Medsos, ‘Pak Pos’, dan Pesan Ramadhan

Banyak yang merasa diuntungkan oleh keberadaan media sosial (medsos). Contoh sisi baiknya, hubungan kekerabatan / pertemanan dari banyak orang menjadi lebih akrab. Atau, berbagai informasi lebih cepat tersiar. Tetapi, tetap berhati-hatilah dalam menggunakannya. Untuk itu, di titik ini, semoga ajaran menahan diri di Ramadhan dapat menyelamatkan kita saat ber-medsos.

 

Kapan Kritis

Medsos telah membuat banyak orang (merasa) makin pintar tanpa harus membaca banyak buku, koran, dan yang sejenisnya. Berbagai informasi lalu-lalang tiap saat, nyaris 24 jam dalam sehari. Pergerakan informasi sungguh sangat dinamis.

Read the rest of this entry »

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/medsos-pak-pos-dan-pesan-ramadhan/

Older posts «