«

»

Sep 28

Print this Post

Aksi Keji PKI dan Heroisme di Gontor  

 

Kebengisan dan pengkhianatan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah sejarah. Hal yang telah terjadi berulang kali itu tak bisa ditutup-tutupi. Maka, sejarah tentang itu harus terus dibuka agar kita mendapat pelajaran.

 

Horor ke Gontor

            Kisah berikut, petikan dari buku berjudul “KH Imam Zarkasyi, dari Gontor Merintis Pesantren Modern” (2016: 143-150). Bahwa, di tengah situasi sulit karena Indonesia masih menghadapi Belanda yang hendak menjajah kembali, Partai Komunis Indonesia (PKI) malah memberontak.

Di kesunyian Kota Madiun, pada 18 September 1948 sekitar pukul 02- api pemberontakan PKI mulai berkobar. Terjadilah banyak kekejaman. Banyak yang dibunuh dan tampaknya disembelih. Ada pula yang disiksa, dicincang, disayat-sayat, ditembak jarak dekat, atau bentuk penganiayaan lainnya.

Siapa korbannya? Mereka adalah orang-orang yang tidak sehaluan dengan PKI (seperti tokoh-tokoh Masyumi, para kiai, guru-guru pesantren), Tentara Pelajar, pegawai yang setia kepada pemerintah pusat, dan sebagainya.

Aksi pengrusakan dilakukan PKI. Ratusan rumah dan beberapa gedung di Madiun dibakar. Sejumlah jembatan, rel kereta api, dan jalan raya dihancurkan.

Di Kediri, ribuan hektar hutan jati dan lebih dari seratus ribu ton kayu dibakar. Sementara di Ngawi berton-ton bibit padi dimusnahkan.

Di Desa Gontor Ponororogo ada Pondok Modern Gontor dan berjarak sekitar 40 Km dari Madiun. Di pesantren itu banyak santri. Tak pelak lagi, kekhawatiran juga melanda warga pesantren.

Kiai Imam Zarkasyi dan Kiai Ahmad Sahal, Pimpinan Pondok, mencoba tenang. Tapi, keduanya terus berpikir tentang langkah-langkah yang harus ditempuh.

Di tengah-tengah itu beredar kabar, sejumlah kiai telah dihabisi PKI, seperti Kiai Mursyid – Pengasuh Pondok Takeran Madiun dan Kiai Dimyati – Pengasuh Pondok Tremas Pacitan. Pun, beberapa tokoh Islam lainnya.

Singkat kisah, meski semula K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal enggan mengungsi –karena bertanggung jawab atas sekitar 200 santri yang ada di pondok- tapi keputusan musyawarah harus dijalankan: Bahwa saat itu melawan pemberontak adalah tidak mungkin. Satu-satunya jalan, mengungsi.

Pengungsian bertujuan ke Trenggalek. Dengan pakaian rakyat biasa, K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal meninggalkan pondok pada giliran paling akhir di belakang para santri. Mereka harus berjalan dari kampung ke kampung melewati jalan setapak, sebelum akhirnya melewati pegunungan.

Ada saat, tiba-tiba mereka bertemu gerombolan PKI. Terjadilah interogasi. K.H. Ahmad Sahal sebagai yang tertua secara tekun meyakinkan pemberontak bahwa rombongan santri ini bukanlah tentara, murni pelajar.

“Baik, sementara ini Bapak tidak kami apa-apakan. Tapi Bapak tetap kami tahan menunggu proses lebih lanjut. Pondok Gontor akan kami geledah. Sekiranya keterangan Bapak tadi bertentangan dengan kenyataan di pondok, akibatnya akan Bapak rasakan sendiri,” ancam si pemimpin gerombolan itu.

Beruntung, sejauh itu tampaknya tak ada pemberontak yang tahu persis sosok K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Imam Zarkasyi yang –sebenarnya- sedang berada di antara para pengungsi itu.

Pemberontak menggiring pengungsi ke sebuah kamar tahanan di sebuah dukuh. Kiai Imam Zarkasyi dan rombongan ditahan di Dukuh Buyut selama semalam. Esoknya, mereka dipindah ke Dukuh Ploso. Esoknya lagi, mereka dipindah ke Kecamatan Soko. Di sini mereka ditahan selama dua malam, sebelum akhirnya dibawa ke Ponorogo. Selama ditahan, pakaian mereka dilucuti. Tinggal lembaran pakaian dalam saja.

Suasananya serba tidak pasti. Selama ditahan para santri disarankan, agar selalu berdoa dan bertawakkal kepada Allah karena mereka masih tidak tahu nasib apa yang akan menimpanya.

Dalam ketidakpastian itu, terjadi dialog antara K.H. Ahmad Sahal dan adiknya, K.H. Imam Zarkasyi: Siapa di antara mereka yang harus mati jika terpaksa situasi menghendaki pengakuan salah seorang di antara mereka sebagai Kiai Gontor.

“Kita ini yang jelas akan mati. Tapi kalau harus mati, jangan hendaknya kita mati dua-duanya. Harus ada yang hidup salah satu, agar cita-cita Pondok dapat dilanjutkan. Maka, kalau nanti terpaksa harus ada yang mengaku, sayalah yang harus mengaku. Saya akan mengaku sebagai Ahmad Sahal…. Kalau masih ditanyakan juga tentang K.H. Imam Zarkasyi, sebaiknya ada di antara santri yang mau mengaku sebagai K.H. Imam Zarkasyi.”

Mendengar ucapan K.H. Ahmad Sahal seperti itu, K.H. Imam Zarkasyi langsung menyela, “Tidak, biar saya saja yang mengaku. Saya yang harus mengaku sebagai Kiai Gontor. Pak Sahal harus tetap hidup.”

“Tidak. Saya yang harus mati. Jangan kamu. Kamu masih muda, kamu masih punya kesempatan banyak untuk meneruskan perjuangan Pondok,” sela sang kakak.

“Tapi Pak Sahal telah banyak berjasa memimpin Pondok. Juga sudah punya wibawa di masyarakat,” ungkap K.H. Imam Zarkasyi.

“Sudah, sekarang diputuskan dan tidak boleh dibantah. Saya yang harus mati, kamu yang harus hidup, titik.” Demikian putusan akhir K.H. Ahmad Sahal.

Lalu, terjadi dialog Kiai Ahmad Sahal dengan satu-dua santrinya. Intinya, sang kiai bertanya apakah bersedia mengaku sebagai K.H. Imam Zarkasyi bila ditanya PKI. Santri yang pertama menyatakan tidak bersedia. Sementara, santri kedua siap.

“Tapi kamu harus siap mati,” kata K.H. Ahmad Sahal.

“Saya sanggup, Pak. Saya siap mengaku sebagai Pak Imam Zarkasyi,” tegas si santri.

Setelah itu, tersusunlah skenario yang siap dijalankan jika PKI memaksa mereka harus menunjukkan siapa sang kiai. Tapi, dalam perkembangannya, tak seorang-pun di antara mereka yang mati. Sebab, di Ponorogo, di bawah pimpinan Abdul Kholiq Hasyim (putra K.H. Hasyim Asy‘ari), tentara memadamkan aksi pemberontak, termasuk menyelamatkan para tawanan. Dalam tempo kurang dari sepekan, aksi pemberontakan PKI di Madiun dan sekitarnya dapat dipadamkan.

 

Pelajaran, Pelajaran!

Di sepanjang sejarah, akan selalu ada contoh “Orang yang tidak baik“ dan “Orang yang baik“ Maka, tentu saja, kita pilih yang baik. “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (QS Yusuf [12]: 111). []

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/aksi-keji-pki-dan-heroisme-di-gontor/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>