«

»

Sep 23

Print this Post

Berguru Dakwah dan Kristologi kepada KH Abdullah Wasi’an

Cover depan buku "100 Tahun KH Abdullah Wasi'an, Kristolog Jago Dialog". Terbit September 2017

Cover depan buku “100 Tahun KH Abdullah Wasi’an, Kristolog Jago Dialog”. Terbit September 2017

Islam adalah agama dakwah. Kristologi merupakan salah satu bagian penting dari materi dakwah. Maka, agar saat berdakwah lewat jalur Kristologi sukses, siapapun memerlukan guru sebagai ‘model’ untuk kita contoh. Terkait ini, Jalan Dakwah dari KH Abdullah Wasi’an –seorang Kristolog- yang oleh banyak fihak dinilai berhasil, wajib kita pelajari.

Memang, keberadaan ‘model’ pendakwah yang baik kita perlukan untuk menambah semangat dan wawasan dalam berdakwah. Bahkan, dalam Islam, keberadaan ‘model’ seperti itu sangat penting, sebagai rujukan untuk kita teladani.

 

***

KH Abdullah Wasi’an adalah pendakwah fenomenal. Dia menguasai Kristologi, sebuah cabang ilmu yang tak banyak dikuasai orang padahal bermanfaat untuk memerkuat aqidah. Dia tak hanya pandai berceramah soal Kristologi, tapi juga cakap menuliskannya menjadi banyak artikel, makalah, dan buku. Dia sering berdebat dengan kalangan Kristen dan memenangkannya.

Kedalaman ilmu KH Abdullah Wasi’an tentang Al-Qur’an dan Bibel tercermin melalui ceramah-ceramahnya dan juga lewat karya-karya tulisnya. Memang, KH Abdullah Wasi’an memiliki talenta yang istimewa, sebab Almarhum berkemampuan sama baiknya antara berceramah dan menulis.

Kristolog Jago Dialog ini menegaskan bahwa penguasaan terhadap Kristologi berguna untuk lebih memudahkan kita mengetahui kelemahan-kelemahan Al-Kitab. Juga, agar kita lebih objektif dalam menilai isi Al-Kitab, sekalipun isinya secara umum itu telah kita ketahui salah. Pun, dapat kita pakai sebagai alat dakwah yang efektif.

Dalam hal Kristologi, KH Abdullah Wasi’an adalah nama yang -sangat boleh jadi- menggetarkan banyak pendeta dan tokoh Kristen. Sebab, telah ratusan pendeta atau tokoh Kristen dari dalam dan luar negeri berdialog / berdebat dengannya. Hasilnya?  Tak satupun dari debat-debat itu yang dimenangkan ‘pihak lawan’. Malah, sebagian dari tokoh-tokoh Kristen itu ada yang lalu masuk Islam secara ikhlas.

 

***

Buku ini berusaha merekam jejak perjuangan dakwah KH Abdullah Wasi’an. Maka, setelah kita lengkap membacanya, ibrah atau pelajaran apa sajakah yang bisa kita dapat?

Pelajaran itu, antara lain: Pertama, beliau sering lebih mendahulukan kepentingan dakwah daripada diri atau keluarga. Namun, meski sibuk berdakwah, beliau tetap “milik” keluarga. Misal, tidak canggung membantu sang istri memasak atau menjahit sendiri baju anak-anaknya.

Kedua, beliau tegas dan berani. Sikap ini akan muncul jika kita sudah yakin bahwa Jalan Dakwah adalah ladang amal yang memang membutuhkan banyak syarat termasuk dimilikinya ketegasan dan keberanian.

Ketiga, beliau gigih. Sampai usia lanjut, Almarhum masih produktif menulis. Waktu, oleh beliau, digunakan secara optimal. Tidak ada waktu yang tak dipakai untuk membaca dan menulis. Beliau tidurnya sangat sebentar.

Keempat, beliau haus ilmu. Meski mahal, beliau pernah membeli dua jilid Ensiklopedi Al-Kitab untuk memersiapkan kajian-kajian yang lebih intensif, termasuk yang terkait dengan diskusi melalui surat-menyurat.

Kelima, beliau memiliki tradisi keilmuan yang kuat. Prinsip beliau, “Makalah dijawab dengan makalah” atau “Buku dijawab dengan buku”.

Keenam, beliau menguasai beberapa bahasa asing antara lain bahasa Jerman, bahasa Belanda, bahasa Perancis maupun bahasa Inggris. Kesemua itu berguna saat mendalami Kristologi.

Ketujuh, beliau meminati banyak hal. Misal, olahraga sepakbola, cerita wayang, atau lagu-lagu tertentu. Semua itu bisa menjadi salah satu pilihan ‘pintu masuk’ agar dakwah berhasil.

Kedelapan, beliau diterima dan bersahabat dengan berbagai kalangan. Antara lain dia bersahabat dengan KH Suyuthi Dahlan, Kiai NU yang juga ahli Kristologi di Kacuk – Malang. Saat berkunjung ke pesantrennya, ribuan santri menyambut dengan sepenuh kehangatan.

Kesembilan, beliau tenang dan komunikatif. Hal ini antara lain bisa ditandai oleh fakta bahwa telah puluhan kali beliau berdialog / berdebat dengan pendeta atau tokoh Kristen.

Kesepuluh, beliau sosok tanpa pamrih. Misal, meski pernah mengalami dijemput dengan mobil ambulan oleh pengundang, atau pernah diinapkan berhari-hari di sebuah Puskesmas oleh panitia, atau harus berlelah-lelah menembus jalanan desa dengan sepeda dan bahkan dengan jalan kaki di pematang sawah menuju tempat pengajian, semua itu tetap dilakukannya dengan sepenuh gairah.

Kesebelas, beliau tabah. Sejak awal, harus kita mengerti bahwa Jalan Dakwah –kapanpun- adalah jalan yang tak pernah sunyi dari rintangan. Tapi, yakinlah, Allah akan selalu beserta para penolong agama-Nya.

Keduabelas, beliau pemaaf. “Kalau kita dikecewakan atau disakiti seseorang, usahakan orang tersebut tidak tahu kalau kita kecewa atau sakit hati,” nasihat beliau di suatu ketika.

Ketigabelas, beliau selalu peduli kepada nasib dakwah. Beliau sering berkata, kurang-lebih, “Semoga saya tidak meninggal dunia sebelum bermunculan kader-kader Kristologi yang tangguh dan mumpuni”. Memang, tekad beliau, “Dakwah terus akan aku lakukan, melalui mimbar pengajian, masjid, gang-gang kampung, diskusi, seminar, atau dialog dengan para pendeta. Ke mana-mana aku selalu ditemani mesin ketikku yang tua untuk terus menulis sampai ajal menjemputku“.

 

***

Alhasil, kepada segenap umat Islam dan terutama kader-kader dakwah yang menekuni Kristologi, pertama, rajin-rajinlah membaca sejarah hidup para Kristolog yang sudah teruji kemampuan dan perjuangannya. Kedua, mari tanpa jemu pelajari buku-buku di seputar Kristologi karya para Kristolog (termasuk rekaman debat mereka). Istiqomahlah di Jalan Dakwah, sebab itu jalan yang telah ditempuh oleh para Nabi dan Rasul.

Semoga -antara lain lewat buku ini-, semakin mantap kita dalam meresapi Suruhan Mulia ini: “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan” (QS Al-Hasyr [59]: 2). Lalu, jika ibrah atau pelajaran sudah kita dapat setelah berguru kepada KH Abdullah Wasi’an (lewat kiprah dakwahnya), maka pada saat yang sama kita harus mulai berusaha untuk menirunya dan bahkan jika bisa melampaui prestasi Almarhum. Bismillah! []

 

 

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/berguru-dakwah-dan-kristologi-kepada-kh-abdullah-wasian/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>