«

Jun 13

Print this Post

Berobat dengan Sedekah

Satu demi satu, manfaat yang dapat dirasakan secara langsung dari berbagai ibadah yang dilakukan umat Islam, terbukti lewat sejumlah penelitian ilmiah. Setidaknya, di Universitas Airlangga – Surabaya, telah teruji dua disertasi yang masing-masing memaparkan hasil penelitian tentang pengaruh shalat tahajjud dan puasa Ramadhan terhadap perbaikan kesehatan seseorang.

Shalat tahajjud diteliti, dan terbukti bahwa ibadah sunnah itu jika dilakukan secara ikhlas akan menyembuhkan serangkaian penyakit. Juga, puasa Ramadhan diteliti, dan terbukti bahwa jika ibadah itu dilaksanakan karena iman dan semata-mata hanya mengharap ridha Allah, dapat meningkatkan imunitas (kekebalan tubuh).

 

Sakit dan Sedekah

Setelah kita bersabar, ridha, atau –bahkan- bersyukur atas sakit yang menimpa kita, maka perlu-lah kita mengobatinya. Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah, karena Allah tidak menciptakan penyakit tanpa menciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua (HR Imam Ahmad).

Ternyata, di antara berbagai media pengobatan yang selama ini kita kenal, ada satu yang lepas dari perhatian kita. Padahal, itu tak sulit kita lakukan, yaitu dengan bersedekah. Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah (HR Baihaqi).

Agar sedekah –dengan izin Allah- bisa segera menjadi media penyembuh penyakit kita, maka penting kiranya untuk memperhatikan sejumlah prinsip pengobatan dengan sedekah.

Pertama, kita harus yakin dengan ‘keampuhan’ sedekah. Keyakinan yang besar di dalam hati tentang hikmah sedekah sebagai media penyembuh penyakit merupakan faktor sangat penting. Kecuali hadits yang telah disebut di atas, ada juga hadits: Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya, bisa dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar (HR Bukhari – Muslim). Jadi, jangan sekali-kali ragu-ragu (misalnya dengan bersikap coba-coba) dalam menjadikan sedekah sebagai media penyembuhan.

Kedua, niatkanlah sedekah untuk kesembuhan. Niat sangat penting kita perhatikan sebab “Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya. Dan, sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan sesuatu dengan apa yang diniatkannya” (HR Bukhari).

Ketiga, bersedekahlah yang banyak. Bersedehkahlah (minimal) sebanding dengan kekayaan yang kita miliki. Yakinilah, harta yang kita sedekahkan itu tidak akan berkurang, sebab Allah akan menggantinya dengan yang lebih banyak dan lebih baik.

Dalam konteks ini, bersedekah secara ‘over dosis’ malah mempercepat kesembuhan. Berbeda dengan pengobatan medis yang sangat membahayakan jika ‘over dosis, maka jika sedekah yang kita keluarkan ‘over dosis’ (tapi dilandasi sikap ikhlas) malah itu justru akan menyegerakan kesembuhannya.

Keempat, bersedekah dengan sesuatu yang terbaik (lihat QS Al-Baqarah [2]: 267 dan QS Ali ‘Imraan [3]: 92).

Kelima, bersedekahlah dengan ikhlas, semata-mata berharap ridha-Nya. Saat bersedekah, kita jauhi sikap tak terpuji. Lihat QS Al-Baqarah [2]: 264 yang menjelaskan bahwa mereka yang tak ikhlas saat bersedekah, tidak akan mendapatkan manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.

Sungguh, menjadi semakin jelas, bahwa saat kita bersedekah harus dilakukan dengan ikhlas, sesuai gambaran hadits ini: “… Dan, seseorang yang mengeluarkan sedekah, kemudian menyembunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfakkan oleh tangan kanannya …” (HR Bukhari – Muslim).

Keenam, sedekah harus tepat sasaran. Kita harus serius memilih orang yang bertakwa, shalih, dan –yang paling penting- benar-benar membutuhkan sedekah kita. Sasaran itu, -antara lain- fakir-miskin.

Saat bersedekah jangan salah sasaran, sebagaimana telah diperingatkan Rasulullah SAW. Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang bertakwa (HR Tirmidzi dan Abu Dawud).

Ketujuh, ulangilah sedekah kita. Jika sudah bersedekah tapi penyakit tak segera sembuh, maka ulangilah dan teruslah mengulang bersedekah. Janganlah berputus asa. Akan lebih baik lagi, jika kita lalu menguatkan introspeksi. Bukankah salah satu hikmah jika kita bersikap sabar saat ditimpa sakit adalah dihapuskannnya kesalahan-kesalahan kita? “Tidaklah dari seorang Muslim yang tertimpa penyakit –sakit atau yang semisalnya-, kecuali Allah SWT merontokkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana rontoknya daun-daun dari pohon” (HR Bukhari – Muslim).

Maka, tetaplah berprasangka baik kepada Allah. Misalnya, berfikirlah bahwa Allah sangat mengasihi kita. InsyaAllah, sakit yang kita derita, akan segera sembuh saat dosa-dosa kita telah rontok semuanya.

Kedelapan, bersyukurlah, Allah menyembuhkan penyakit kita. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim [14]: 7).

 

Yakin, Yakin

 Terakhir, jika kita perhatikan pengalaman nyata orang-orang di sekitar kita, maka ada cukup banyak bukti tentang orang-orang yang sembuh dari (berbagai) penyakit yang dideritanya, setelah bersedekah. Misalnya, ada kisah, orang yang sembuh dari kanker. Ada cerita, wanita mandul bisa hamil. Ada riwayat, penglihatan orang pulih kembali normal seperti semula. Ada pengalaman, terkena penyakit ‘ain bisa sembuh. Bahkan, ada bukti, penyakit jiwa dapat terobati. Semuanya, dengan media pengobatan bernama sedekah. Maka, rajinlah bersedekah, baik di waktu lapang atau pun di kala sempit! []

 

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/berobat-dengan-sedekah/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>