«

»

Nov 30

Print this Post

Intelektual, Artikel, dan Buku

Jawa Pos, Minggu, 20 Mei 2007,

Saya memutuskan membeli buku –pada pertengahan 2006– berjudul Haji Pengabdi Setan karya Prof KH Ali Mustafa Yaqub MA, karena dua alasan. Pertama, judul buku itu provokatif. Bukankah, berhaji itu mulia di depan Allah? Lalu, adakah yang salah, kok didakwa sebagai pengabdi setan?

Kedua, penulis buku itu seorang profesor (ilmu) hadits di Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta. Dia juga ahli fiqih yang tidak saja cakap berceramah, tapi mahir pula menulis (dari tangannya lahir 20 buku). Artinya, dia memiliki kompetensi dan otoritas ilmiah untuk menulis soal haji.

Seperti kita ketahui, sekarang rata-rata buku baru yang beredar di pasaran bersegel plastik. Dengan itu, buku bisa lebih “awet”, tapi sayang kita tidak bisa melihat isinya, termasuk sekadar untuk mengetahui daftar isinya. Nah, ketika segel plastik buku Haji Pengabdi Setan saya buka, ternyata buku itu bukan buku utuh lagi. Sebab, berisi sejumlah makalah yang pernah disampaikan penulis di berbagai kesempatan dan artikel yang pernah dimuat di sejumlah media.

Tapi, di “titik lemah” ini (yaitu hanya berupa kumpulan makalah/artikel), bukan tak mungkin bagi sejumlah orang justru menjadi lebih bernilai positif. Sebab, hanya dengan memiliki satu buku, kita bisa mendapatkan 30 bahasan yang menarik seperti “Pluralisme Agama dalam Pandangan Islam” atau “Membongkar Kepalsuan Kisah Yusuf-Zulaikha”.

Sementara, dari 30 judul yang tersaji di buku, hanya empat yang bertalian dengan masalah haji. Intinya, sang penulis buku mengkritik keras mereka yang tergolong kemaruk haji, yaitu siapa saja yang telah menunaikan ibadah (wajib) haji, tapi lalu mengulangi (bahkan berulang-ulang) dengan dalih mengamalkan sunnah, tanpa memperhatikan kondisi sosial-ekonomi di sekitarnya, yang sejak 1997 sampai sekarang nasib mayoritas warga masyarakatnya terpuruk karena didera krisis multi-dimensi.

Maka, gugat sang penulis, apakah berhaji berulang-ulang itu mereka niati semata untuk Allah? Atau, sejatinya kita mengikuti bisikan setan, agar di mata awam kita mulia? Jika motivasi (yang disebut terakhir) ini yang mendorong, maka berarti kita berhaji bukan karena Allah, melainkan karena perintah setan.

Singkat kata, sekalipun awalnya sempat kecewa membeli buku yang tak utuh (karena hanya berisi kumpulan makalah/artikel), tapi setelah membaca keseluruhan buku yang padat dan bernas itu, tak urung kita justru layak memberi apresiasi kepada si penulis.

Fungsi Sosial

Sebenarnya, di sekitar kita cukup banyak dijumpai buku-buku yang berkategori bukan buku utuh, karena hanya berisi himpunan makalah/artikel. Sebagian dari buku-buku itu penggarapannya ada yang disunting editor, yang bukan saja bisa menjadikannya lebih “gurih” dibaca, tapi lebih dari itu penggunaan bahasanya menjadi lebih bernilai sebagai “bahasa buku” yang “abadi” dan bukan bahasa makalah/artikel yang bersifat terbatas. Sebagai contoh, di artikel yang dimuat koran pada 23 April 2006 tertulis, “Kemarin, terjadi peristiwa fenomenal di Surabaya”. Oleh sang editor, kalimat itu disunting menjadi, “Pada 22 April 2006, terjadi peristiwa fenomenal di Surabaya.”

Bisa pula, kecuali mengubah penggunaan bahasa menjadi lebih bernilai “bahasa buku” dan bukan bahasa makalah/artikel yang bersifat terbatas, juga dilakukan teknik rubrikasi untuk memudahkan pembaca dalam mengikuti pemikiran si penulis, yang untuk pekerjaan ini bisa dilakukan oleh si penulis sendiri atau dibantu editor. Tulisan-tulisan bertema serupa dikelompokkan sesamanya dan diikat dalam sebuah sub-judul. Dengan demikian, urutan waktu penulisan (makalah/artikel) menjadi tak penting. Sekadar contoh, bisa kita lihat dua seri buku Hendak ke Mana (Islam) Indonesia? karya Adian Husaini MA. Di seri kedua (bertahun terbit 2005) buku karya tokoh muda Islam dan kandidat doktor di bidang pemikiran Islam tersebut berisi 28 artikel (lepas) dan lalu dikelompokkan menjadi empat rubrik.

Namun demikian, ada pula buku yang berkategori sebagai kumpulan makalah/artikel yang sekadar menghimpun saja, tanpa editing sama sekali, dengan alasan –antara lain– untuk mempertahankan keaslian dan “suasana kebatinan” ketika tulisan itu dibuat.

Apa pun, yang jelas, buku yang berisi kumpulan tulisan itu tetap bermanfaat bagi pencapaian proyek besar mencerdaskan umat manusia. Dengan demikian, intelektual yang suka berbagi pikiran-pikiran cerdas yang dimilikinya dengan aktif menulis di media cetak, berpeluang besar untuk memiliki karya buku (berupa kumpulan tulisannya itu). Sebagai contoh, dari tangan Prof Dr M. Amien Rais, telah lahir sejumlah buku yang berisi himpunan dari berbagai tulisan dia di media cetak. Di antaranya, Suksesi dan Keajaiban Kekuasaan (1998). Atau, lihatlah karya Dr Rifyal Ka’bah MA, dosen Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Di antara banyak buku karyanya (baik karya asli ataupun terjemahan), terdapat juga buku yang berisi kumpulan tulisan. Buku itu berjudul Politik dan Hukum dalam Al-Qur’an (2005), berisi 28 tulisan lepas.

Dari uraian di atas, terbukti bahwa manfaat penulisan artikel di media cetak bisa berumur panjang jika kita lalu mengompilasinya dan lantas menerbitkannya dalam bentuk buku.

Dengan mengingat peran penting artikel dan buku dalam proses mencerdaskan umat manusia, maka kita –terutama kaum intelektual– harus bisa menulis.

Sungguh, akan mubazir, jika pikiran-pikiran cerdas intelektual itu hanya menjadi aset pribadi, yang sama sekali tak memiliki fungsi sosial. Oleh karena itu, sangat dianjurkan kepada mereka untuk aktif menuangkan pemikiran (ilmiah) yang dipunyainya dalam bentuk artikel-artikel yang dipublikasikan di media, sedemikian rupa dapat dirasakan manfaatnya oleh publik. Kelak, setelah artikel-artikel itu mencapai jumlah tertentu, bisa dikompilasi dan diterbitkan dalam bentuk buku.

Kepada para intelektual, jangan tunda lagi, menulislah dan teruslah menulis! Bisa dengan menulis artikel-artikel (yang kemudian bisa dibukukan) atau langsung menulis sebuah buku utuh. Sungguh, wahai kaum intelektual, di sepanjang hamparan sejarah umat manusia, jejak intelektualitas Anda ditunggu dengan penuh cinta. []
M. Anwar Djaelani, penulis lepas dan editor buku, tinggal di Surabaya

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/intelektual-artikel-dan-buku/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>