«

»

Sep 18

Print this Post

Mahasiswa (Baru), Selamat Berjuang!

Dimuat di harian Duta Masyarakat 18-09-2017

Dimuat di harian Duta Masyarakat 18-09-2017

“Berlelah-lelahlah! Manisnya hidup terasa setelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika air mengalir, menjadi jernih. Jika air tidak mengalir, akan keruh” (Imam Syafi’i).

 

Tata Posisi

Di Agustus-September 2017 banyak kampus mengukuhkan mahasiswa barunya. Misal, pada 02/08/2017 Universitas Airlangga kukuhkan 6.780 mahasiswa baru  (www..unair.ac.id 02/08/2017). Sementara, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kukuhkan 5.109 mahasiswa baru pada 15/08/2017 (www.centroone.com 16/08/2017). Maka, secara nasional, bisa kita bayangkan berapa banyak mahasiswa baru yang dikukuhkan di perkuliahan 2017/2018 ini.

Sekarang, lihatlah para mahasiswa baru itu! Mereka ke kampus dengan langkah mantap, khas pemilik semangat muda. Wajah berseri-seri, terbayang masa depan cerah.

Selepas bersyukur, mari menunduk. Bahwa, mahasiswa baru itu sedang menapaki babakan baru. Baru, karena mereka berada di lingkungan Pendidikan Tinggi.

Di Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, disebutkan bahwa Pendidikan Tinggi berfungsi:  a).mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa;  b).mengembangkan Sivitas Akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma; dan c).mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora.

Semua fungsi Pendidikan Tinggi itu akan menjadi pedoman mahasiswa selama berkuliah. Inilah awal dimulainya kerja-kerja positif dari mahasiswa. Mari buktikan bahwa kampus dan mahasiswa benar-benar menjalankan fungsi Perguruan Tinggi secara benar.

Terkait fungsi Pendidikan Tinggi yang pertama, mahasiswa diharapkan mantap memiliki watak sebagai insan Pancasilais. Mahasiswa bisa tampil dalam keseharian sebagai insan yang beriman dan bertakwa, adil dan beradab, menjunjung persatuan, suka bermusyawarah, serta mengedepankan kebersamaan di tengah-tengah kehidupan sosial. Di titik ini kita yakin –dengan pertolongan Allah- mahasiswa (baru) bisa menjadi manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.

Untuk fungsi Pendidikan Tinggi yang kedua, mahasiswa diharapkan selalu tampil sebagai insan responsif-kreatif-inovatif di tengah-tengah masyarakat yang sebagian cenderung merasa puas dengan apa yang sudah ada. Mahasiswa diharapkan pula memiliki pengalaman dalam mengasah daya saing antar-pribadi, yang jika itu dikerjakan secara benar akan bisa meningkatkan daya saing kita sebagai bangsa.

Pada fungsi Pendidikan Tinggi yang ketiga, Mahasiswa diharapkan untuk terus bisa menambah dan mengembangkan ilmu. Pendidikan yang baik itu berlangsung seumur hidup. Maka, perbarui terus ilmu kita.

 

Agar tak Busuk

Mari menunduk lebih dalam. Nikmat menjadi mahasiswa itu bisa kita syukuri antara lain dengan cara belajar secara tekun. Bangsa dan negara mengharapkan mahasiswa sukses menempuh Pendidikan Tinggi. Negara memerlukan kontribusi berupa tenaga dan fikiran dari mahasiswa –para intelektual muda- untuk membangun peradaban.

Meski demikian, dengan pengaturan waktu yang baik, hendaknya mahasiswa menyempatkan untuk serius mengenali semua persoalan yang ada di masyarakat. Kenalilah masalah-masalah itu dan pada saat yang sama aktiflah mencarikan jalan keluarnya.

Jangan ragu-ragu, di saat yang tepat turunlah ke masyarakat. Dekati rakyat dan terlibatlah di dalam usaha-usaha menyelesaikan masalah mereka. Sungguh, masyarakat akan bangga dengan kehadiran mahasiswa. Mereka akan mengapresiasi dengan tulus apapun kontribusi mahasiswa. Sebab selama ini, masyarakat itu sebenarnya selalu berharap agar kaum intelektual aktif memimpin mereka lewat pemikiran dan aksi nyata.

Untuk itu, belajarlah kepada sejarah. Dulu, di zaman pergerakan merebut kemerdekaan, tak banyak orang yang tergolong sebagai intelektual. Tapi, ternyata, sejumlah kecil intelektual itu bisa memimpin pergerakan perjuangan bangsa. Kita-pun lalu menjadi saksi akan hasilnya, yaitu: Indonesia merdeka!

Peran mereka –kaum intelektual- terus berlanjut, terutama di awal-awal kita memertahankan kemerdekaan dan di saat “mengisi” pembangunan. Mereka menginisiasi banyak program kebaikan untuk meraih kesejahteraan bersama.

Mari, intelektualitas yang kita punya tidak hanya dijadikan sebagai sekadar media untuk berbangga diri saja. Tapi, seraya menggabungkannya dengan moralitas agama, manfaatkanlah intelektualitas tersebut untuk mencapai tujuan kita berbangsa dan bernegara.

Janganlah mahasiswa menjadi intelektual yang sekadar merasa nyaman di Menara Gading. Jangan posisikan masyarakat sebagai orang lain, sebagai fihak yang ada di “seberang”. Tampillah di tengah-tengah masyarakat di saat yang tepat. Untuk itu, sekali lagi, belajarlah kepada sejarah.

Pelajarilah sejarah hidup tokoh-tokoh bangsa yang sudah teruji jiwa luhur dan gerak pengabdiannya. Ambillah pelajaran dari kaum intelektual yang karena kontribusinya yang besar bagi bangsa, lalu –tanpa mereka minta- masyarakat menyebut mereka sebagai “Tokoh”.

Jadilah intelektual-pejuang, sebuah pribadi ideal karena otaknya dipenuhi ilmu-ilmu yang bermanfaat dan hatinya dipenuhi ruh keagamaan yang mencerahkan. Sungguh, dengan posisi sebagai intelektual-pejuang, kita tak akan pernah menggadaikan integritas kita dengan suatu kepentingan berjangka pendek yang hanya menguntungkan diri sendiri atau kelompok.

Selalu bersikap kritislah dengan situasi di sekitar kita. Misal, kritis atas banyaknya ketimpangan seperti tentang hukum yang masih bak pisau, “Tumpul ke atas tapi tajam ke bawah”. Kritis atas banyaknya keganjilan seperti tentang sejumlah megaproyek tak berizin tapi sudah dimulai pembangunannya dan bahkan sudah memasarkan ‘produk’-nya.

Alhasil, duhai mahasiswa –baru dan lama-, jadilah aktivis! Teruslah bersikap dinamis dengan menjadikan kata-kata berhikmah dari Imam Syafi’i yang dikutip di awal tulisan ini sebagai sumber inspirasi. Bahwa, sebagai mahasiswa, senantiasalah untuk selalu bergerak agar tak mengalami ‘pembusukan’. Teruslah berjuang! []

 

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/mahasiswa-baru-selamat-berjuang/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>