«

»

Jan 11

Print this Post

Rangsangan, Awal Ilmu Pengetahuan

Related image

Masa dipergilirkan antar-umat manusia. Ada zaman ketika sebuah kaum jaya dan di masa yang berbeda mengalami pula keteringgalan. Dalam sejarah, di bidang ilmu pengetahuan umat Islam pernah memimpin dunia. Maka di titik ini, di saat jaya, pelajaran Islam manakah yang paling berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan?

Koin Baca-tulis

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahapemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS Al-’Alaq [96]: 1-5).

Itulah lima ayat pertama dari Allah yang teramat penting dan mendasar. Bahwa Allah “Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam”, dengan perantaraan tulis-baca.

Tampak, perintah untuk selalu berkegiatan membaca dan menulis merupakan salah satu ajaran paling mendasar. Maka, tak mengherankan, jika ajaran itu lalu berperan sangat besar mendongkrak kesadaran umat Islam dalam memelajari berbagai ilmu pengetahuan. Implikasinya, umat Islam –lewat para ilmuwannya- bisa melahirkan sebegitu banyak buku atau karya tulis lainnya dalam berbagai disiplin ilmu.

Membaca dan menulis adalah sesuatu yang tak terpisahkan. Misalnya, buku atau bentuk karya tulis lainnya adalah sesuatu yang teramat dibutuhkan sebagai bahan bacaan. Akibatnya, terutama di masa lalu, aktivitas penulisan buku menjadi sesuatu yang sangat menggairahkan. Ilmuwan rajin menuliskan berbagai hasil penelitiannya. Bidang yang ditulis mereka meliputi semua hal yang terkait dengan ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, musik, matematika, logika, geografi, astronomi, kedokteran, sejarah, sosiologi, ilmu politik, dan lain-lainnya. Al-Kindi, Ibnu Sina, Imam Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, dan Ibnu Rusyd adalah sekadar untuk menyebut sejumlah nama popular yang telah menghasilkan banyak karya tulis.

Kembali ke perintah “membaca” pada QS Al-Alaq [96]: 1. Secara harfiah, punya arti sekadar membaca ayat tertulis saja. Tapi, makna yang lebih luas adalah meminta agar membaca juga ayat-ayat tak tertulis yang berupa semesta alam dan semua kejadian di dalamnya.

Pada awalnya –hasil bacaan itu- untuk sekadar percaya dan yakin bahwa Allah itu ada dan tunggal. Lalu, setelah itu, akan banyak hikmah-hikmah yang bisa kita dapat. Di antara hasil membaca alam, adalah lahirnya Ilmu Pengetahuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan.

Cermatilah, di dalam Al-Qur’an bertaburan ayat yang meminta manusia untuk menggunakan akal dan fikirannya. Ada berbagai ayat yang berisi penghormatan bagi orang-orang yang berilmu. Juga, ada banyak ayat yang berhubungan dengan ilmu.

Sekadar menyebut contoh, mari cermati QS Al-Ghaasiyah [88]: 17-20): “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”

Paling tidak, dari ayat di atas, terbuka untuk beberapa pertanyaan kritis. Kita mulai: “Maka, apakah mereka tidak memerhatikan unta bagaimana ia diciptakan?” Ayat ini meminta kita agar memerhatikan dengan sungguh-sungguh unta. Binatang yang disebut terakhir ini, bahkan sampai sekarang menyimpan sejumlah rahasia dan teka-teki. Misal, makhluq ini tergolong luar biasa sebagai binatang tunggangan. Dengan sekali minum, dia mampu menempuh perjalanan jauh dan berhari-hari.

Demikianlah, pada dasarnya kita diminta untuk mengamati unta. Namun, sebenarnya kita harus juga mengamati pula binatang lainnya. Maka, beralasan jika perkembangan ilmu tentang binatang (Zoology) akan bisa berkembang karenanya.

“Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?” Tanya kita, adakah –misalnya- Allah menggunakan ‘tiang-tiang” untuk menjunjung langit? Jika ada, di mana tiang itu? Lalu, jika tanpa tiang, dengan teknik apa Allah menjadikan langit seperti yang kita saksikan sekarang ini? Lalu, benda-benda langit apa sajakah yang bertaburan di langit dan sekitarnya? Maka, di titik ini, setidaknya astronomi akan dirangsang perkembangannya.

“Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?” Diketahui, andai tak ada gunung, maka jalannya rotasi bumi pada porosnya dan gerakan revolusi bumi mengelilingi matahari tak akan berlangsung sempurna seperti yang selama ini telah kita rasakan. Gunung adalah penjaga keseimbangan bumi.

“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” Tumbuhan apa saja yang berkembang di atas bumi? Benda apa saja yang bisa ditambang dari perut bumi? Maka, di titik ini, antara lain geografi, geologi, dan botani bisa berkembang.

QS Al-Ghasiyah [88]: 17-20 hanya sebagian saja dari ayat-ayat yang “merangsang” pengembangan ilmu pengetahuan. Memang tidak rinci dan hanya memuat pokok-pokonya saja. Selebihnya manusialah yang haris menerangkannya. Dengan cara inilah Islam mendidik umatnya untuk menghormatia akal dan sekaligus memaksimalkan fungsinya untuk tujuan-tujuan positif.

Al-Qur’an bersungguh-sungguh dalam mendorong kita agar tekun berfikir dan bahkan menantang kita untuk selalu menggunakan akal. Perhatikanlah, bahwa sangat banyak rangsangan kepada kita di dalam Al-Qur’an: Afala Ta’qilun (Apakah kamu tidak menggunakan akalmu?), Afala yatadabbarun (Apakah kalian tak menelaah?), Afala tatafakkarun (apakah kalian tak berpikir), Afala ta’lamun (apakah engkau tidak mengetahui?). Bahkan, kepada diri kita sendiri ada perintah dan rangsangan: “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Adz-Dzaariyaat [51]: 21). Luar biasa!

 

Posisi Tinggi

Dengan demikian, jadilah manusia beriman yang berstatus ilmuwan, sebab posisi itu berderajat tinggi. “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS Al-Mujaadilah [58]: 11). Untuk itu, jadilah Muslim yang selalu terangsang untuk mengembangkan info-info inti di bidang ilmu pengetahuan yang banyak terdapat di dalam Al-Qur’an. []

 

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/rangsangan-awal-ilmu-pengetahuan/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>