«

»

Dec 14

Print this Post

Siapa Bisa “Mengulang” Perjuangan AM Fatwa?

Related imageKabar di Kamis pagi 14/12/2017 membuat banyak umat Islam sedih. Refleks, mereka mendoakan aktivis dan pejuang yang telah banyak berkorban itu husnul khotimah. Kini, siapa yang dapat melanjutkan perjuangan tokoh yang pernah mendapat penghargaan atas pledoi terpanjang yang ditulisnya di penjara masa Orde Baru itu?

 

Tandang Gelanggang

Indonesia kehilangan putra terbaiknya. Pagi 14/12/2017 pukul 06.25, Andi Mappetahang Fatwa atau lebih dikenal dengan AM Fatwa meninggal dunia. Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, itu wafat di Jakarta (www.jawapos.com 14/12/2017).

Siapa Almarhum? AM Fatwa lahir di Bone Sulawesi Selatan 12/02/1939. Sejak muda dia aktif di berbagai organisasi seperti PII, HMI, GPII, dan Muhammadiyah. Dia juga aktif dari awal terbentuknya Keluarga Besar PII sebagai Penasihat dan kini di Dewan Kehormatan. Demikian juga di KAHMI pernah jadi Wakil Ketua di awal terbentuknya, kemudian di Dewan Penasihat. Belakangan, juga di ICMI, terakhir sebagai Dewan Kehormatan (www.wikipedia.org akses 14/12/2017 pukul 09.58).

Masih dari situs di atas, AM Fatwa juga aktif di front-front pergerakan seperti Front Pemuda, Badan Kerjasama Pemuda Militer (BKSPM), Front Nasional, dan Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB), serta Front Anti Komunis (FAK). Pernah menjadi Sekretaris Perserikatan Organisasi-Organisasi Pemuda Islam Seluruh Indonesia (PORPISI) mewakili HMI, ketika presidiumnya diketuai A. Chalid Mawardi dari GP Anshor. Juga pernah menjadi Sekjen Badan Amal Muslimin, ketika presidiumnya diketuai oleh Letjen. H. Soedirman. Badan Amal Muslimin nantinya menjadi fasilitator inisiatif terbentuknya Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI).

Dia juga memelopori terbentuknya HMI Komisariat IAIN dan Cabang Ciputat Jakarta. Saat kuliah di IAIN itu, AM Fatwa mendapat beasiswa ikatan dinas dari ALRI, dan menjabat Ketua Koprs Pelajar Calon Perwira AL Komisariat Jakarta menggantikan dr. Otto Maulana dari Universitas Indonesia (1960-1961). Selanjutnya jadi Ketua Senat Seluruh Indonesia menggantikan dr. Tarmizi Taher dari Universitas Airlangga (1961-1963).

AM Fatwa tokoh kritis dan itu –bisa dibilang- di sepanjang usianya. Atas sikap kritisnya itu, berbagai tekanan dan bahkan peristiwa buruk –seperti ditahan dan dipenjara- kerap dialaminya. Berikut ini sekadar gambarannya, disarikan dari www.merdeka.com 02/03/2017.

Pada 1963, saat terjadi demonstrasi di kampusnya yang  mengkritik kebijakan rektor IAIN dan Menteri Agama, dia ditahan dan dijerat Undang-Undang 11/1963 atau UU Subversi. AM Fatwa dibawa ke Markas Besar Angkatan Kepolisian. Kemudian dipindah ke Sukabumi. Dia mengaku tidak mengalami penyiksaan fisik, tapi teror mental. “Hanya dibakar kumis saya, oleh seorang komisaris polisi,” kenang AM Fatwa.

Ketika perubahan politik terjadi, AM Fatwa-pun bebas tanpa pernah menjalani persidangan. Tak kapok, Fatwa kembali aktif ikut berbagai demonstrasi. “Di (awal) Orde Baru saya mendukung, tapi lama-lama kok setelah beberapa periode, kita melihat ini sudah menyimpang dari arah semula. Maka, ya saya menyampaikan kritik-kritik seperti melalui khotbah Jumat, yang isinya banyak dibuat dalam bentuk buku, sehingga buku-buku saya dilarang” ujar AM Fatwa.

Kekerasan fisik lebih parah dialami AM Fatwa saat Orde Baru. Dia alami kekerasan hingga gegar otak. Pernah, saat menyetir, dia dibacok celurit oleh orang tidak dikenal. Namun bacokan meleset dan mengenai bibir atas. “Mandi darah saya,” tutur AM Fatwa.

Pada 1978, Fatwa yang menjadi pelaksana rapat akbar MUI Pusat dan MUI DKI di Senayan untuk menyampaikan kebulatan tekad umat Islam menolak dimasukkannya Aliran Kepercayaan dalam GBHN, dijerat dengan UU Subversi. Dia ditahan sembilan bulan.

Puncaknya pada 1984, lagi-lagi dengan tuduhan subversi, Fatwa ditahan antara lain terkait pembuatan “Lembaran Putih” kasus Tanjung Priok. Dia dijatuhi hukuman 18 tahun penjara dari tuntutan seumur hidup.

Soal penyiksaan di penjara, Fatwa menuturkan sudah biasa mengalami dipukul, ditendang, dan dinjak-injak. Salah satunya di Rutan Guntur, Jakarta Selatan. Tengah malam, para tahanan dikeluarkan dari sel, dibawa ke lapangan dan digunduli. “Namanya tahanan, pasti dikerjain,” kenangnya.

AM Fatwa pernah dikurung di sel dan berdiri di atas kaca yang di sekelilingnya berisi kotoran manusia. Pukul tiga pagi, dengan mata ditutup kain hitam, dia dibawa dengan mobil. Kepalanya ditodong pistol, badannya ditodong sangkur. Disuruh turun di suatu tempat, katanya mau ditembak. Waktu itu ramai “petrus” (penembakan misterius). Orang yang menangkap saya bilang “Kamu akan dipetrus dan dikarungi. Apa pesan-pesan untuk keluarga?”

Mari kita kenang AM Fatwa lebih jauh, antara lain dengan membuka www.dpd.go.id “edisi” 08/10/2014. Disebutkan bahwa AM Fatwa seorang politisi dan negarawan dengan pengalaman luas. Setelah bergulat perjuangkan keadilan, dia bergabung dengan partai politik. AM Fatwa-pun tercatat pernah menjabat Wakil Ketua MPR RI 2004 – 2009 dan Wakil Ketua DPR RI 1999 – 2004. Lalu, AM Fatwa terpilih menjadi Senator Indonesia dari daerah pemilihan DKI Jakarta periode 2014 -2019.

Berkat keahliannya berdiplomasi, AM Fatwa kerap dipercaya memimpin delegasi ke sejumlah negara asing. Antara lain, dia merintis dibukanya Kedutaan RI di Tripoli Libya dan menjadi Koordinator Grup Kerjasama Bilateral Parlemen Indonesia dan Portugal.

Berbagai penghargaan pun kerap diraihnya, seperti Museum Rekor Indonesia (MURI) memberinya penghargaan sebagai anggota parlemen paling produktif menulis buku, selain penghargaan atas pledoi terpanjang yang ditulisnya di penjara masa Orde Baru. Atas pemikiran dan pengabdiannya pada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan luar sekolah, AM Fatwa dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada 16 Juni 2009.

 

Siapa Bisa

Rasanya, perjuangan dan jasa AM Fatwa bagi bangsa dan negara ini tak sedikit. Maka, tentu sebagai bangsa yang besar, kita tak akan pernah dapat melupakannya. Tugas kita sekarang, terus merawat semangat kepejuangannya yang tak pernah pudar meski berbagai ujian berat menghadangnya. []

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/siapa-bisa-mengulang-perjuangan-am-fatwa/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>