«

»

Dec 25

Print this Post

Virus Aqidah di Perayaan Tahun Baru

Banyak aktivitas di tengah-tengah masyarakat yang tergolong sebagai virus yang membahayakan aqidah umat Islam. Terkait itu, termasuk pula aktivitas di sekitar perayaan Tahun Baru. Waspadalah, jangan sampai kita terjangkiti olehnya!

 

Ancaman Itu

Agar aqidah kita selamat, maka perayaan tahun baru Masehi termasuk yang harus kita waspadai. Lihatlah fenomena ini: Begadang semalaman, berkonvoi dengan motor/mobil, bernyanyi-nyanyi, makan-makan, meniup terompet, dan berpesta kembang api adalah sedikit contoh hura-hura yang biasa mewarnai pergantian tahun Masehi.

Sayang, sebagian umat Islam terlibat dalam aktivitas yang jauh dari ridha Allah itu. Sebab, di balik perayaan tahun baru Masehi ada resiko rusaknya aqidah kita lantaran acara itu tergolong dalam rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diikuti seorang Muslim.

Tentang perayaan tahun baru Masehi, berikut ini petikan dari www.eramuslim.com edisi 29/12/2009: “Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga dunia”.

“Seperti kita ketahui,” lanjut EraMuslim, “Tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka, yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang Dewa Lemanja, Dewa laut yang terkenal dalam legenda Negara Brazil.”

“Menurut sejarah,” masih menurut EraMuslim, “Bulan Januari (terkait) dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir-pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi”.

Demikianlah, perayaan tahun baru Masehi tergolong sebagai rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang Muslim. Sungguh, dalam soal perayaan Hari Besar, sejak awal Rasulullah SAW telah memberikan garis yang tegas, agar kaum Muslim hanya merayakan Hari Besar-nya sendiri dan tidak meniru-niru atau mengambil hari yang sama dengan kaum Musyrik (Yahudi dan Nasrani).

Di dalam kitab Iqtidha’u ash-Shiraati al-Mustaqim Mukhaalifatu Ashhaabi al-Jahiim, Ibnu Taimiyah mengutip Umar bin Khaththab Ra –Sahabat Nabi Muhammad Saw- yang berkata: ”Janganlah kalian memasuki tempat-tempat ibadah kaum musyrik saat peringatan hari besar mereka. Sesungguhnya kemurkaan Allah sedang turun atas mereka”. Bahkan, lebih tegas lagi, Umar bin Khaththab Ra mengingatkan: ”Jauhilah musuh-musuh Allah di saat (peringatan) hari besar agama mereka (Husaini, 2005: 11).

Turut di dalam perayaan tahun baru Masehi adalah bentuk partisipasi di dalam misi kekufuran. Ikut merayakan hari raya mereka sama saja dengan mempertontonkan dukungan dan loyalitas kita dalam misi kekufuran.

 

Sebuah Catatan

Bagi seorang Muslim yang ikut merayakan tahun baru Masehi bisa berakibat: Pertama, tercemarinya iman seperti yang telah sedikit dipaparkan di atas.

Kedua, menjadi salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, sebuah perilaku yang dilarang oleh Rasulullah SAW (sesuai HR Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani).

Ketiga, tergolong sebagai melakukan perbuatan yang sia-sia karena tidak mendatangkan kemanfaatan. Berperilaku sia-sia –karena lekat dengan hal-hal yang bersifat hura-hura-, kecuali dekat dengan maksiat juga kerap membutuhkan biaya yang tak sedikit. Oleh karena aktivitas perayaan tahun baru Masehi tak ada manfaatnya bagi seorang Muslim, maka pasti semua biaya yang dikeluarkannya untuk acara itu termasuk pemborosan. Uang yang dikeluarkan untuk merayakannya (seperti untuk: makan-makan, tiket masuk arena hiburan, bahan bakar untuk motor / mobil, menyulut kembang api, dan sebagainya) adalah bentuk pembelanjaan yang sia-sia di sisi Allah.

Mari cermati hal-hal yang terkait dengan pemborosan di aktivitas hura-hura saat perayaan tahun baru Masehi. Di satu aspek saja, kira-kira berapa rupiah yang dihabiskan untuk membakar kembang api dan petasan? Konon, beserta kegiatan penunjang lainnya, aktivitas itu bisa menghabiskan biaya miliaran rupiah.

Luar biasa! Uang miliaran habis untuk berhura-hura dan dihanguskan lewat aksi bakar kembang api dan petasan hanya dalam waktu beberapa menit saja. Sungguh mubadzir! Padahal, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS Al-Israa’ [17]: 27).

 

Jauhi, Jauhi!

Mari, tinggalkan sesuatu yang Allah tak ridha. Jangan bantu mereka yang tak tunduk kepada agama Allah. “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (QS Al-Maidah [5]: 2).

Jauhi segala aktivitas yang tak bermanfaat, yang sia-sia. “Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya” (HR Tirmidzi).

Jauhi neraka jahannam, antara lain dengan meninggalkan hal-hal yang tak berfaedah, yang sia-sia! Perhatikanlah, bahwa di antara ciri-ciri orang yang akan terjauhkan dari neraka adalah: “Orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya” (QS Al-Furqaan [25]: 72).

Alhasil, semoga Allah memudahkan semua usaha kita dalam menjaga aqidah dari berbagai virus di sekitar kita. Aamiin. []

Share on Facebook

Permanent link to this article: http://www.anwardjaelani.com/virus-aqidah-di-perayaan-tahun-baru-2/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>